Banner

Friday, September 20, 2019

Sepekan Lalu BRG Bantah Tudingan Sumur Bor Fiktif di Kalteng

(Foto: Ilustrasi). 
BARITORYAPOST.COM (Jakarta) - Isu soal sumur bor fiktif di Kalimantan Tengah sudah beredar sejak.awal September 2019 ini.

Ihwal sumur fiktif alias akal-akalan ini pertama kali dilansir oleh Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalimantan Tengah. Kala itu, Walhi menuding Badan Restorasi Gambut (BRG) sebagai pihak yang harus bertanggungjawab atas proyek pembasahan gambut yang Didanai APBN tahun 2018 itu.

Sebagaimana dikutip CNN-Indonesia (13/9/2019) Deputi Bidang Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi, dan Kemitraan BRG Myrna A Safitri mengatakan, sumur bor fiktif yang disangkakan Walhi tersebut bukan dibuat oleh BRG dan tidak berada di lokasi kerja BRG. 

Hal ini diketahui usai tim BRG melakukan verifikasi ke lokasi sumur bor tersebut.

"Kami telah melakukan kunjungan untuk memverifikasi ke lokasi sumur bor yang dimaksud pada 11 September 2019. Hasilnya sumur bor fiktif itu bukan dibuat BRG dan tidak berada di lokasi kerja BRG," ujar Myrna.

Tudingan ini berawal dari permintaan Walhi agar keberadaan BRG dievaluasi karena dianggap tak berkontribusi pada penanganan kebakaran hutan dan lahan. Selain itu Walhi juga menemukan tujuh sumur bor fiktif di Kalteng.

Myrna menyebut tujuh sumur bor fiktif ini terletak di Desa Henda, Kabupaten Pulang Pisau, Kalteng. Dari hasil verifikasi BRG, lokasi sumur bor itu ternyata berada di luar titik pembangunan sumur bor yang dikerjakan lembaga pelaksana yaitu Universitas Muhammadiyah Palangkaraya (UMP).

Baca Juga:

Kasus Sumur Bor Fiktif, Kantor Tim Restorasi Gambut Daerah Juga Digeledah

Menurut Myrna, terdapat perbedaan spesifikasi antara sumur bor yang dibangun UMP dengan sumur bor fiktif yang dituduhkan Walhi.

"Pada sumur bor fiktif ini pipa yang ditancapkan di dalam tanah adalah bekas plang penanda sumur, bukan pipa untuk sumur yang biasa digunakan," katanya.

Selain itu, di samping pipa sumur juga tidak ditemukan lubang pembuatan sumur dan plang penanda sumur bor. Pihaknya justru menemukan bekas semen di sekitar sumur bor fiktif tersebut.

Baca Juga:

Kasus Sumur Bor Fiktif, DLH Kalteng Digeledah Satuan Khusus Kejari Palangka Raya

Myrna menuturkan, sumur bor yang dibangun UMP mestinya memiliki spesifikasi berupa plang penanda sumur, memakai pipa PVC AW1 dan galvinis, ada bekisting atau cetakan sementara untuk menahan beton, dan ada elbow (siku).

"Jadi sumur bor yang dibangun UMP memiliki tanda-tanda sendiri yang sudah jelas. Tim verifikasi juga sudah mencoba beberapa sumur bor yang dibangun UMP pada 2018 dan dapat berfungsi dengan baik," ucap Myrna. (Ted/BRP)

Show comments
Hide comments
No comments:
Write comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Berita Terkait

Back to Top