Banner

Friday, November 29, 2019

Menyimak Laporan Agritrade Resources, PT SEM Memang Tidak Punya Program CSR

BARITORAYAPOST.COM (Palangkaraya) - Para Kepala Desa, pengurus adat  atau Karang Taruna di sekitar lokasi tambang PT Semanas Energindo Mineral (PT SEM) atau Rimau Group senantiasa bertanya-tanya. Mengapa PT SEM tidak pernah lagi memberi bantuan dana untuk perayaan HUT RI. Atau, jarang memberi bantuan untuk perbaikan rumah ibadah. 

Menurut mereka, dulu pada awalnya mereka mendapat bantuan, tetapi belakang nyaris tak pernah lagi. Bahkan, belakangan, meski kami mengajukan permintaan bantuan secara resmi melalui proposal, “Desa Bentot paling pernah mendapat bantuan dana Rp500 ribu,” kata seorang Kepala Desa. “Yang agak besar itu bantuan untuk Desa Jaweten, itu mencapai Rp1 juta - Rp1,5 juta,” lanjutnya.

Berdasarkan fakta di lapangan yang ditemukan baritorayapost.com, dari sekitar 50 desa yang berada di Ring I sampai Ring III, hanya mendapat bantuan sejumlah kecil dana. Tetapi sejak tahun 2017 hingga kini, tidak pernah mendapat lagi bantuan dari PT SEM atau Rimau Group.

Sebagaimana diketahui, sejak tahun 2010 hingga 2019 praktis jalan hauling PT Pertamina sepanjang 60 km itu dikelola oleh Asosiasi Pertambangan Batubara (APB) Bartim. Sedangkan APB adalah identik dengan PT SEM/Rimau. Pernah juga jalan hauling itu dikelola dengan bendera PT Megastar. Tetapi ternyata Megastar adalah juga satu badan hukum yang berafiliasi dengan PT SEM. 

Jadi wajarlah apabila 10-12 desa di sepanjang jalan hauling, dan puluhan desa lain di sekitar tambang dan kantor/pabrik, selalu mempertanyakan program CSR kepada PT SEM/Rimau. Karena selain sejak 2010-2019 APB/SEM/Rimau mengelola 60 km jalan hauling, PT SEM/Rimau adalah perusahaan terbesar yang beroperasi di kawasan Barito Timur.

Sulit dipercaya, APB/PT SEM /Rimau yang memberlakukkan pungutan terhadap jalan hauling PT Pertamina dan juga merupakan perusahaan terbesar di kawasan ini, pelit memberikan bantuan perayaan 17 Agustusan, apalagi progam CSR.  

Tetapi setelah membedah buku Laporan Tahunan Agritrade Resources Limited (induk PT SEM dan Rimau), ternyata memang tak disebut adanya program CSR yang konkrit. Di dalam Laporan Tahunan 2019, dalam Bab yang membahas Corporate Social Responsibility (Tanggung Jawab Sosial Perusahaan) tak ada fakta konkrit yang disebut.

Bab Corporate Social Responsibility dilaporkan di halaman 47 di dalam buku setebal 180 halaman tersebut. Tetapi anehnya, soal yang sangat penting ini, hanya dijelaskan dalam 4 paragraf. Itupun penjelasanya sangat sumir. Bahkan tidak ada data atau fakta yang disebut, apa saja kegiatan CSR yang konkrit di lapangan.

Coba mari kita simak penjelasan soal CSR dalam Laporan Tahunan induk perusahaan PT SEM/Rimau ini. Penjelasan dalam bahasa Inggris tersebut jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berbunyi demikian:



“Group kami sangat percaya, keuntungan yang kami peroleh, kami berikan kembali kepada masyarakat. Masyarakat dan lingkungan selalu merupakan faktor penting yang kami pertimbangkan di area tempat kami beroperasi. Kami bertujuan meningkatkan kondisi kehidupan mereka dengan melibatkan mereka dalam berbagai kegiatan.

Kami membangun dan meningkatkan infrastruktur umum di sekitar tambang. Seperti jalan, pembangkit listrik, dan pasokan air. Tambang juga merupakan sumber peluang kerja bagi penduduk setempat.

Group ini mengurangi dampak lingkungan dengan merehabilitasi lahan bekas tambang, dengan cara menutup bekas tambang dan menanaminya kembali. Kami memastikan bahwa vegetasi tumbuh dan satwa liar kembali.  

Kami mengadopsi sistem drainase dan penyaringan air limbah untuk memastikan bahwa air tersebut aman dan disterilkan. Penambangan yang bertanggung jawab akan selalu menjadi aspek kunci dari bisnis kami. Kami akan terus mengeksplorasi komunitas lokal dengan memberi manfaat kesehatan dan pendidikan.”

Percaya atau tidak, hanya ini penjelasan soal CSR dalam buku laporan tahunan 2019. Laporannya seperti pidato pejabat. Normatif dan tidak nyentuh fakta di lapangan. Tidak membumi. 

Biasanya, perusahanan-perusahaan besar melaporkan kegiatan CSR-nya secara rinci dan bisa dicek di lapangan. CSR adalah kebanggaan yang mengharumkan nama perusahaan (corporate image). Karena itu, lazim dipasang foto-foto berukuran besar atau dalam jumlah banyak.

Dalam laporan itu, lazim disebut, misalnya: membangun sarana air bersih di Desa Bentot, memberikan bea-siswa bagi guru se-Kecamatan Telang Baru, membantu alat musik bagi sanggar tari di 10 desa sepanjang jalan hauling, membangun rumah ibadah di Desa Sumur dan Jaweten, lengkap dengan foto-fotonya.

Itu contoh laporan pelaksanaan CSR. Harusnya detail dan rinci, sebagaimana melaporkan asset dan transaksi keuangan.

Di dalam empat paragrap itu, malah disebut: memberi peluang kerja penduduk lokal, menutup dan menanami bekas tambang, penyaringan air limbah sebelum dibuang ke sungai. Itu semua adalah kewajiban-kewajiban perusahaan sesuai dengan regulasi. Itu bukan CSR. Sekali lagi bukan CSR.

Jadi, memang dari sono-nya (Hong Kong) tidak ada progam CSR. Laporan sepanjang empat paragrap itu menunjukkan, Agritrade Resources Limited tampaknya tidak mengenal prinsip-prinsip Corporate Social Responsibility sebagai bagian dari prinsip menjaga harmoni lingkungan alam dan lingkungan social. Tidak menjalankan prinsip pengelolaan tambang yang berkelanjutan (sustainability).

Buku Laporan Tahunan Agritrade Resources Limited 2019 ini menjelaskan kepada warga Barito Timur umumnya, dan wilayah Ring I, Ring II dan Ring III khususnya. Bahwa Agritrade Resources (PT SEM dan Rimau) tidak mamiliki program CSR. Meski, meraup laba Rp1,23 triliun!! (Yes/Red/BRP).

Show comments
Hide comments
No comments:
Write comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Berita Terkait

Back to Top