Banner

Thursday, November 7, 2019

Perdarahan Saat Ibu Melahirkan, Momok di Kalimantan Tengah Hingga Hari Ini

BARITORAYAPOST.COM (Jakarta) - Tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) menjadi gambaran bahwa Indonesia masih menghadapi permasalahan kesehatan yang berdampak serius terhadap angka harapan hidup. 

Provinsi Kalimantan Tengah tidak luput dari risiko naiknya angka kematian ibu melahirkan. 

Puskesmas Tumbang Miri, Kabupaten Gunung Mas, Provinsi Kalimantan Tengah, menjadi salah satu pusat layanan kesehatan yang mencatat peningkatan angka kematian ibu dan bayi di wilayah tersebut dalam tiga tahun terakhir, akibat komplikasi perdarahan dalam persalinan.

AKI mengacu pada jumlah kematian ibu yang terkait dengan masa kehamilan, persalinan dan nifas. 

Hasil Survey Demografi dan Kesehatan Gunung Mas Tahun 2016 menyebutkan bahwa AKI tahun 2016 sebesar 223 per 100.000 kelahiran hidup.

Penyebab terbanyak kematian ibu adalah komplikasi dalam persalinan, seperti perdarahan dan kelahiran yang sulit.

Tingginya angka kematian ibu juga cukup banyak dipengaruhi oleh tingkat pemahaman masyarakat setempat yang masih mengandalkan peran dukun bersalin untuk membantu proses persalinan di rumah.

Sulitnya akses jalan dan transfortasi juga ikut berperan dalam penanganan kegawatdaruratan proses persalinan.

dr. Rusni memberi contoh lain dimana persalinan yang ditolong di rumah pasien oleh tenaga kesehatan, mengalami 
perdarahan.

“Petugas kesehatan dan pasien langsung mengambil keputusan untuk dibawa ke Puskesmas tanpa dipasang infus terlebih dahulu. Saat tiba di ruang bersalin Puskesmas Tumbang Miri, pasien sudah mengalami penurunan kesadaran, tingkat tekanan darah sudah sangat rendah, dan perdarahan pun sudah tidak aktif dikarenakan sudah benyak kekurangan darah.

Tim medis kemudian melakukan pemasangan infus dua jalur saat itu, dan segera merujuk ke rumah sakit di kabupaten terdekat. 

Sayangnya pasien meninggal dalam perjalanan. Seandainya saja bisa dilakukan transfusi darah di Puskesmas, kematian kemungkinan besar dapat dihindari,” tukasnya.

Oleh karenanya, ia menegaskan bahwa akses terhadap ketersediaan darah dan distribusi bantuan darah yang tepat waktu serta tepat sasaran sangatlah penting, karena akan mampu menyelamatkan jiwa ibu melahirkan dengan kasus perdarahan.

dr. Rusni mengungkapkan bahwa akses transportasi yang melewati sungai juga belum optimal karena dibutuhkan waktu tempuh sekitar 2 jam untuk sampai ke Puskesmas dan dari Puskesmas ke RS Kabupaten memerlukan waktu sekitar 1.45-2 jam.

Selain karena perdarahan, dr. Rusni mengakui bahwa penyebab kematian ibu melahirkan di Gunung Mas cukup kompleks, “Kombinasi antara sarana dan prasarana Puskesmas yang belum memadai, kompetensi tenaga kesehatan yang masih perlu ditingkatkan, serta pengetahuan ibu hamil yang masih rendah sehingga memilih untuk bersalin di rumah.”

Namun di lain pihak, dr. Rusni dapat berbangga bahwa program pelayanan KIA telah dijalankan, seperti kelas ibu hamil dan program Jaminan Persalinan (Jampersal) untuk mengatasi masalah biaya persalinan, prosedur tata laksana dan praktik PONED (Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergensi Dasar) pun telah berjalan sesuai standar, meski terkadang masih menghadapi kendala ketersediaan obat-obatan dan Bahan Medis Habis Pakai (BHMP).

Selain itu, ia menggugah adanya penegakkan regulasi yang mewajibkan ibu untuk melahirkan di fasilitas kesehatan, “Selama dua tahun terakhir, kami melakukan program kemitraan lintas sektor antara bidan kesehatan dan tenaga non-kesehatan, termasuk dukun bersalin, untuk mencegah terjadinya persalinan di rumah. Perubahan perilaku dan penegakkan disiplin ini membutuhkan komitmen dan dukungan mulai dari Camat, Dinas Kesehatan, hingga pimpinan tertinggi Pemerintah Daerah.”

Mengingat perdarahan saat melahirkan terus menjadi momok hingga saat ini, dr. Rusni berharap terdapat solusi inovatif yang didukung teknologi, dan secara cepat dapat membantu menekan angka kematian ibu melahirkan di tempat ini. “Jika saja ada sebuah alat transportasi yang bebas hambatan, yang dapat membawa bantuan darah, obat￾obatan, atau alat kesehatan ke lokasi terpencil, tentu akan membantu kerja para tenaga kesehatan dan menyelamatkan lebih banyak nyawa,” tutupnya.

Angka Kematian Ibu di Gunung Mas: Refleksi Pencapaian SDGs Indonesia. Kasus dan tantangan yang dihadapi oleh dr. Rusni hanyalah sekelumit dari tingginya angka kematian ibu di Indonesia. Sejak evaluasi pencapaian Tujuan Pembangunan Millennium (Millennium Development Goals/MDGs) di tahun 2015, 

Sebelum bertransisi ke kerangka Sustainable Development Goals (SDGs), negara kita sudah menunjukkan tren yang kurang menggembirakan.

Saat itu kasus kematian ibu dan bayi baru lahir di Indonesia adalah 305 per 100.000 kelahiran, padahal target yang dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) adalah 102 per 100.000 kelahiran dan negara-negara lainnya di kawasan ASEAN sudah berhasil menekan angkanya menjadi 40-60 per 100.000 kelahiran hidup. Kematian ibu melahirkan di Indonesia pun masih tetap didominasi oleh tiga penyebab utama yaitu perdarahan, Hipertensi Dalam Kehamilan (HDK) dan infeksi.

Tingginya Angka Kematian Ibu dan Anak di Indonesia memang diperburuk kondisi geografis, dimana masih banyak terdapat daerah terpencil dan kepulauan yang sulit akses terhadap layanan kesehatan. 

Berdasarkan data dari Statistical Yearbook of Indonesia 2018, Indonesia memiliki 16.056 pulau dan 122 daerah tertinggal.

 Kondisi ini tentu membuat tantangan Indonesia dalam menyiapkan akses terhadap pelayanan kesehatan menjadi sangat besar.

Fakta ini menempatkan Indonesia pada posisi ke-2 negara dengan AKI tertinggi di ASEAN setelah Laos (ASEAN Secretariat, 2017). 

AKI yang tinggi menandakan banyak ibu yang seharusnya tidak meninggal, akhirnya meninggal karena tidak mendapatkan penanganan yang seharusnya. (Yes/Red/BRP).

Show comments
Hide comments
No comments:
Write comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Berita Terkait

Back to Top