-->

Tuesday, 26 January 2021

Banjir Besar Kalsel: Waspada DAS Barito! (4)

Salah satu sudut kesibukan lalu lintas pertambangan di Sungai Barito.

BARITORAYAPOST.COM (Jakarta) - Penyebab banjir besar di Kalimantan Selatan saat ini masih menjadi tanda tanya. 

Terkesan para stake holder saling tuding, saling lempar dan saling cuci-tangan. Baik stake holder dari pihak pemerintah maupun stake holder dari pihak pelaku usaha, khususnya pelaku usaha pertambangan dan perkebunan. 

Sebagaimana kita lihat, catatan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) menyebut 41 persen kawasan hutan di Kalsel dikuasai izin tambang

Dalam laporannya Walhi menyebutkan, seluas 399 ribu hektare atau 41 persen dari 984.791 hektare kawasan hutan di Kalsel telah dikuasai izin tambang. Dengan demikian, 41 persen hutan di Pegunungan Meratus dan hutan lainnya di Kalsel dibebani izin tambang.

Dalam kawasan hutan tersebut, demikian Walhi, terdapat sungai, yang selama ini menjadi salah sebuah tumpuan hidup sebagian besar masyarakat. Hal tersebut juga menjadi ancaman serius bagi kelestarian sumber daya air di Kalsel. Bahkan diperkirakan ratusan kilometer sungai sudah berubah menjadi areal pertambangan. 

Tidak hanya sumber air. Pertambangan menurut Walhi juga telah mengancam kawasan pegunungan Meratus. Kini, tambang telah menguasai 33 persen luas Kalimantan Selatan dan 17 persen lainnya dikuasai izin perkebunan.

Hal itu diperkuat oleh laporan dari Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) melalui citra setelit. Mereka melaporkan penemuan sebanyak 814 lubang di Kalimantan Selatan milik 157 perusahaan tambang batu bara. Sebagian lubang berstatus tambang aktif, dan sebagian lagi telah ditinggalkan tanpa reklamasi.

Lalu, apakah tambang jadi penyebab kerusakan lingkungan, termasuk salah satunya banjir? Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar justru mengklaim banjir di Kalsel ini akibat dari anomali cuaca

Waspada DAS Barito

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar, menepis informasi jika banjir di Kalsel akibat hutan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito yang menyempit.

"Ada simpang siur informasi, terlebih banyak data tidak valid yang sengaja dikeluarkan beberapa pihak. KLHK selaku pemegang mandat walidata pemantauan sumber daya hutan, menjelaskan, penyebab banjir Kalsel anomali cuaca dan bukan soal luas hutan di DAS Barito wilayah Kalsel,” tulis Siti Nurbaya di akun Twitter resminya @SitiNurbayaLHK, Rabu, 21 Januari 2021.

Dia pun mengklaim hulu DAS Barito di Kalimantan secara keseluruhan masih terjaga dengan baik, yakni seluas 6,2 juta hektare. Sementara itu, DAS Barito yang sebagian berada di wilayah Kalsel seluas 1,8 juta hektare.

Menurutnya, perhatian perlu diberikan pada daerah hulu DAS Barito ini. Karena 94.5 persen dari total wilayah Hulu DAS Barito berada dalam kawasan hutan.

"Menggunakan data tahun 2019, sebesar 83,3 persen hulu DAS Barito bertutupan hutan alam dan sisanya 1,3 persen adalah hutan tanaman. Dalam hal ini hulu DAS Barito masih terjaga baik,” ujar Siti Nurbaya. 

Lebih jauh ia menjelaskan, bagian dari DAS Barito yang berada di wilayah Kalsel hanya mencakup 40 persen kawasan hutan dan 60 persen lagi adalah Areal Penggunaan Lain (APL) atau bukan kawasan hutan.

Sementara itu, lanjut dia, kondisi DAS Barito di wilayah Kalsel tidak sama dengan DAS Barito Kalimantan secara keseluruhan. Sebab, DAS Barito di Kalsel berada di lahan untuk masyarakat atau APL, yang didominasi oleh pertanian lahan kering dan sawah serta kebun.

"Kejadian banjir pada DAS Barito di wilayah Kalsel tepatnya berada pada Daerah Tampung Air (DTA) Riam Kiwa, DTA Kurau, dan DTA Barabai karena curah hujan ekstrem, dan sangat mungkin terjadi dengan recurrent periode 50-100 tahun,” kata  Siti.

Siti pun menjelaskan lebih rinci, penyebab utama banjir di Kalsel akibat intensitas hujan yang sangat tinggi selama lima hari berturut-turut, yakni 9-13 Januari 2021. Dalam kurun waktu tersebut, kata dia, intensitas hujan sembilan kali lipat dari biasanya.

Hal itu dinilainya jadi penyebab debit air yang masuk ke DAS Barito jadi besar, yakni mencapai 2,08 miliar meter kubik, sementara daya tampung sungai hanya mencapai 238 juta meter kubik.

Tak hanya soal itu, Siti pun mengungkapkan faktor lain penyebab Banjir Kalsel. Dia mengatakan, terdapat perbedaan tinggi hulu-hilir sungai yang sangat signifikan.  Sehingga suplai air dari hulu dengan kekuatan besar menyebabkan air keluar DAS Barito yang menyebabkan banjir di 10 kabupaten/kota di Kalsel.

"Perlu juga diketahui, hasil analisis menunjukkan penurunan luas hutan alam DAS Barito di Kalsel selama periode 1990-2019 adalah sebesar 62,8 persen. Penurunan hutan terbesar terjadi pada periode 1990-2000 yaitu sebesar 55,5 persen," ujar dia.

Sejak dia ditunjuk sebagai Menteri LHK pada 2014, Siti mengklaim sudah melakukan rehabilitasi kawasan hutan secara besar-besaran, salah satunya dengan menanam pohon di areal lahan kritis.

"Upaya lain untuk pemulihan lingkungan dilakukan dengan memaksa kewajiban reklamasi atas izin-izin tambang. Tindakan tegas juga dilakukan bersama Pemda, terutama pada tambang yang tidak mengantongi izin,” kata Siti menegaskan.

Sekali pagi, perlu menjadi perhatian, terutama pihak pemerintah daerah di kawasan hulu DAS Barito yang berada di Kalteng. Terutama  mulai dari Murung Raya, Barito Utara, Barito Selatan, hingga Kalimantan Selatan (yes/red/BRP)

Show comments
Hide comments
No comments:
Write comment

Contact form

Name

Email *

Message *

Back to Top