-->

Thursday, 18 February 2021

Kasus Pemukulan Wartawan, Penyidik Polres Barsel Tak Menjiwai Janji Kapolri

Surat tanggapan atas pengaduan Adiyat Nugraha ke Dewan Pers.


BARITORAYAPOST. COM (Jakarta) - Surat Kasatreskrim Barito Selatan tentang penetapan tersangka terhadap anggota DPRD Barito Selatan Adiyat Nugraha yang melakukan penyerangan terhadap wartawan dinilai tidak menjiwai semangat Kapolri tentang Presisi. 

Mengapa? Karena penetapan tersangka terhadap Adiyat Nugraha tidak menggunakan Undang-Undang No. 40 Tahun 1999 tentang Pers. 

Demikian pernyataan Yohanes S Widada seusai menjadi nara sumber dalam diskusi peringatan Hari Pers Nasional dalam acara Megapolitan Pers Club (18/2/2021).

Yohanes Widada yang pernah menjabat sebagai pimpinan Media News Network pada Metro TV dan Media Indonesia itu mengkritisi alasan Kasat Reskrim Polres Barito Selatan AKP Yonals Nata Putera, mengapa tidak menjerat tersangka dengan pasal 18 ayat (1) UU Nomor. 40/1999 tentang Pers. 

Alasan Yonals sebagaimana dikutip media, karena yang bersangkutan (Adiyat Nugraha) tidak ada menghalangi atau melarang media meliput berita, jadi pembuktiannya sulit. "Yang bersangkutan cuma melakukan pengancaman, setelah itu pergi dari tempat kejadian perkara (TKP)," kata Yonals.

Alasan ini, menurut Yohanes Widada, sangat tidak rasional dan tidak profesional. "Bahkan bertentangan dengan janji Kapolri untuk bersikap 'Presisi'." 

Presisi menurut Kapolri singkatan dari prediktif, responsibilitas, transparansi, berkeadilan. 

"Jelas sekali dari pernyataan Kasatreskrim itu, pihaknya tidak memiliki responsibilitas (tanggungjawab) dan berkeadilan," papar Widada. 

Sekurang-kurangnya Polres Barsel tidak responsible terhadap tugasnya sebagai penyidik, yang harus melaksanakan tugas sesuai SOP, yaitu mentaati cara kerja criminal justice system

Polisi tidak hanya melihat peristiwa itu sebagai peristiwa belaka. Tetapi harus dilihat motifnya. Kejahatan atau tindak kriminal/pidana itu harus dilihat motifnya. Penyidik harus mengetahui alasannya. 

"Tanpa mengetahui alasan atau motifnya, sudah pasti penyidik tidak bisa memberikan pertimbangan hukum. Dan karena itu ia tidak punya responsibility dan akibatnya proses hukum itu tidak berkeadilan," papar Yohanes Widada. 

"Mustahil Sdr Adiyat yang anggota DPRD itu mencari seseorang, dan mengayunkan dua kali tongkat bisbolnya ke kepala seorang wartawan tanpa alasan atau motif yang serius. Karena dengan dia memukul pakai tongkat bisbol, dia mempertaruhkan nama dan jabatannya," lanjut Widada. 

Dan soal motif atau alasan ini, menurut Widada, sudah dengan jelas dikemukakan Adiyat sendiri saat Kasatreskrim memfasilitasi/memediasi Adiyat untuk meminta maaf kepada wartawan (Amar Iswani) yang menjadi sasarannya.


Sebagaimana dikisahkan oleh Amar Iswani, kala itu Adiyat menjelaskan ia marah karena berita tentang dirinya yang tidak hadir berturut-turut di sidang DPRD. 

"Kala itu saya bertanya kepada Adiyat mengapa anda memukul saya. Adiyat, saat itu mengakui bahwa dirinya khilaf melakukan pemukulan lantaran teringat istrinya menangis akibat melihat pemberitaan tentang dirinya yang tidak hadir sidang rapat paripurna di media sosial jenis Facebook. Lantaran teringat itu, masih kata Adiyat, dirinya mengambil tongkat bisbol di mobil miliknya yang terparkir di belakang Kantor DPRD Barsel, dan mencari yang namanya Amar Iswani. Dan setelah tahu Amar Iswani itu saya, maka dia mengarahkan pukulan bisbolnya kepada saya," tutur Amar kepada wartawan media ini. 

Dari jawaban Adiyat kepada Amar pada mediasi yang dihadiri Kasatreskrim AKP Yonals dan jajarannya, disaksikan pula Ketua PWI Barsel Hamdan, jelaslah bahwa Adiyat memukul Amar karena alasan berita tentang dirinya yang membolos sidang DPRD.

Selain fakta itu, ada fakta lain yang menguatkan bahwa Adiyat mengayunkan tongkat bisbolnya kepada Amar Iswani itu karena alasan berita media. Fakta itu terang benderang. Yaitu pengaduan Adiyat Nugraha ke Dewan Pers.  

Kepada Dewan Pers Adiyat terang-terangan mengadukan berita berjudul "Berdasarkan Absensi, Adiyat Nugraha Tidak Hadir Sebanyak 7 Kali Sidang Rapat Paripurna di DPRD Barsel.”

Jadi, menurut Widada, penyidik harus mengungkap motif atau alasannya.  Karena aneh jika penyidik mengaku sulit membuktikannya."Kita merasa aneh. Dan boleh kita bertanya, mengapa penyidik terkesan malas. Belum apa-apa sudah menyatakan sulit membuktikannya. 

Ini membuat publik curiga. Dan ini bertentangan dengan janji Kapolri, yang mau berlaku adil. Tidak lagi tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Dalam hal ini penyidik tumpul membuka motif anggota DPRD bernama Adiyat Nugraha, yang tidak lain juga adik Bupati Barito Selatan dan putra mantan Gubernur Kalteng," lanjut Widada.  

Kembali ke pernyataan Kasatreskrim yang mengaku sulit melakukan pembuktian, Yohanes Widada mengaku tidak percaya. 

"Penyidik Polri itu hebat-hebat. Banyak kasus besar dan rumitpun terungkap. Ini kasus yang sangat sederhana, dan motifnya sudah sangat gamblang, kenapa belum apa-apa sudah mengaku kesulitan melakukan pembuktian. Ini bahaya jika penyidik yang menjadi ujung tombak pelayanan masyarakat tidak sungguh-sungguh menjiwai janji Kapolri," pungkas Widada. (tim/red/BRP).

Show comments
Hide comments
No comments:
Write comment

Contact form

Name

Email *

Message *

Back to Top