baritorayapost.com,BARABAI-Di tepian Hulu Sungai Tengah, berdirilah sebuah daerah bernama Hambawang Pulasan, Desa Haur Gading, Kecamatan Batang Alai Utara, yang berbatasan langsung dengan Batumandi, Kabupaten Balangan. Jalur ini dahulu menjadi urat nadi lalu lintas tentara Belanda, baik menuju Batumandi maupun ke Barabai.
Pada dini hari, Kamis pertengahan Mei 1947—bertepatan dengan tanggal 18 Ramadhan—sunyi malam dipecah oleh langkah dua belas pejuang yang dipimpin H. Aberani Sulaiman. Dengan isak tangis dan lambaian tangan, masyarakat setempat melepas keberangkatan mereka. Tujuan para pejuang ini jelas: melakukan penyanggulan terhadap tentara Belanda yang melintas di Hambawang Pulasan.
Perjalanan panjang ditempuh dengan berjalan kaki. Pagi itu, pukul 07.30 WITA, kedua belas pejuang sampai di lokasi. H. Aberani Sulaiman segera membagi pasukan menjadi dua kelompok. Ia sendiri memimpin barisan di puncak bukit bersama Jamhar, Sapar (Daeng Lajida), Hamdi Idar, dan Utuh Kandangan. Sementara kelompok lain dipimpin H. Damanhuri bersama Madekawis, M. Suni, Ibur, Karim, Jahri, dan Tuhani yang bersiaga di kiri-kanan jalan menanjak.
Menjelang pukul 10.00 WITA, suara mesin truk dari kejauhan terdengar menggema. H. Aberani Sulaiman memberi aba-aba. Dari bawah terlihat sebuah truk penuh dengan tentara Belanda, berdiri dengan senjata modern di tangan. Ketika truk hampir mencapai puncak tanjakan, tiba-tiba aba-aba serangan terdengar lantang. Para pejuang keluar dari persembunyian, memuntahkan peluru dari Owen Gun, Thompson, Karabin US/LE, hingga pistol.
Serangan mendadak membuat tentara Belanda kalang kabut. Peluru demi peluru menembus udara, menyalak bagaikan guntur. Sopir truk Belanda tumbang terkena bidikan H. Aberani Sulaiman, membuat kendaraan itu oleng dan terbalik di tepi jalan. Suasana menjadi mencekam—teriakan, dentuman senjata, dan asap mesiu bercampur menjadi satu.
Di tengah kepanikan, Madekawis turun dari perbukitan. Ia nekat mendekati truk terbalik untuk merebut senjata Bren Gun milik Belanda. Namun, langkahnya terhenti oleh rentetan tembakan dari truk Belanda lain yang datang sebagai bala bantuan. Peluru menghantam tubuhnya. Madekawis jatuh, bersimbah darah.
Melihat sahabatnya tersungkur, H. Aberani Sulaiman dan pasukannya berusaha menyelamatkan Madekawis sambil tetap bertempur. Pertarungan jarak dekat pun tak terelakkan. Hanya tujuh pejuang bersenjata melawan puluhan tentara Belanda. Ketika deru truk tambahan berisi pasukan Belanda tiba, perlawanan menjadi kian berat.
Dengan kondisi tak seimbang, H. Aberani Sulaiman akhirnya memerintahkan pasukannya mundur berpencar, membawa Madekawis yang sekarat. Meski berhasil menyulitkan pengejaran Belanda, nasib berkata lain: Madekawis akhirnya gugur dalam pelarian. Ia wafat sebagai syuhada, sementara Utuh Kandangan yang sempat bersamanya berhasil lolos.
Pertempuran itu menelan korban besar di pihak Belanda: 48 tentara tewas. Para pejuang kemudian berkumpul kembali di Goa Kudahaya, menyusun langkah baru.
Namun sejarah Hambawang Pulasan tidak berhenti di sana. Setahun berselang, pada Agustus 1948, kembali terjadi penyanggulan di kawasan Hambawang Pulasan, Desa Haur Gading. Kali ini dipimpin oleh Aliansyah bersama 13 pejuang. Mereka menghadang iring-iringan tentara Belanda dengan strategi berani. Dentuman senjata kembali menggema, dan meski tidak ada korban jiwa dari kedua belah pihak, pertempuran itu meninggalkan jejak luka: banyak tentara Belanda menderita luka ringan hingga berat akibat serangan mendadak para pejuang.
Dua peristiwa besar di Hambawang Pulasan itu menjadi penanda: darah dan keberanian para pejuang Hulu Sungai Tengah tak pernah padam. Meski bersenjata seadanya, mereka membuktikan bahwa kemerdekaan bukan hadiah, melainkan harga diri yang diperjuangkan dengan nyawa.
Hambawang Pulasan, Desa Haur Gading, tercatat dalam sejarah bukan hanya sebagai medan tempur, melainkan sebagai saksi keberanian anak negeri yang memilih merdeka atau mati.
(Masruswian/mask95).










