Zona pertama dibuka secara kuota besar, artinya dalam per-hari bisa mencapai 500-1000 orang pengunjung. Kemudian zona kedua yakni tetap asli/terbatas. Dan terakhir zona eksklusif, di mana wisatawan yang hadir menginginkan spesial interest yang lebih merasakan suasana asli hutan dan melihat hewan-hewan langka yang ada di dalam, bahkan mereka bisa tinggal di dalam hutan.
“Saya bisa bilang kalau awalnya orang-orang yang datang ke Kaltim itu maunya pasti ke arah utara yaitu Pulau Derawan atau Hulu Kutai Barat, guna melihat aktivitas masyarakat adat Dayak disana. Tetapi Balikpapan yang hanya sebatas singgah, juga banyak diminati dari kawan-kawan tour agent yang membawa wisatawan spesial pengamat burung (birdwatcher) yang datang dan tinggal di sini (Hutan Lindung Sungai Wain) sampai 10 hari,” ungkapnya.
“Nah, persiapan kami terhadap pengunjung yang singgah ke Balikpapan sebagai pintu gerbang IKN, supaya mereka ingin melihat Hutan Lindung Sungai Wain asli Kalimantan yang begitu istimewa, dan sangat dekat dengan wilayah IKN,” sambungnya.
Di sisi lain, Agus beranggapan bahwa adanya IKN dapat memicu tantangan migrasi ke Balikpapan. Namun dengan begitu, para pendatang bisa diuntungkan melihat Hutan asli Sungai Wain yang populer, meski belum sampai ke IKN.
Terkait tantangan itu, kelompoknya tengah memaksimalkan antisipasi guna menghadapi gejolak pendatang. Terutama, kata dia, yaitu persiapan Sumber Daya Manusia (SDM) keanggotaannya. Diakuinya, sarana dan prasarana yang masih minim dan beberapa fasilitas-fasilitas yang mungkin harus terus ditingkatkan lagi.
“Sekarang kami sedang dalam memproses,” akunya.









