baritorayapost.com, BARITO TIMUR – Pernah nggak sih kebayang kalau Kabupaten Barito Timur jadi destinasi utama buat para pecinta festival? Bayangin, hampir tiap bulan ada acara seru, meriah dan penuh warna yang bikin siapapun betah dan pengin balik lagi.
Sebelum kita bahas lebih jauh, apa sih sebenernya festival itu? Intinya, festival itu kayak pesta besar. Bisa pesta budaya, tradisi, musik, olahraga atau sekadar kumpul-kumpul masyarakat yang dikemas dengan cara yang asik dan heboh. Intinya, festival adalah momen buat kita bersenang-senang, sekaligus melestarikan warisan budaya, alam atau kebiasaan unik yang kita banggain.
Dan kalau kita jeli, Barito Timur sebenarnya udah punya modal yang oke banget buat dijuluki “Negeri Festival”. Tinggal bagaimana kita merangkai semua potensi itu jadi satu identitas yang keren dan memikat.
Contohnya, ada Festival Budaya Nansarunai Jajaka dan Festival Keang di Kota Tamiang Layang yang selalu dinanti-nanti. Atau Festival Nariuk di Desa Pulau Patai, di mana warga berburu ikan pakai Tariuk, seru banget buat ditonton bahkan dicoba. Desa Lalap punya Festival Nikep, tradisi menangkap ikan pakai tanguk yang biasanya didominasi kaum perempuan. Belum lagi Festival Memancing di Sarapat yang baru pertama kali digelar tahun ini.
Dari sini, udah jelas kan kalau Barito Timur punya “darah” festival. Tinggal ditambahin beberapa even lagi, jadilah kalender acara yang padat sepanjang tahun.
Kalau branding “Negeri Festival” ini beneran diwujudin, dampaknya bisa luar biasa. Nama Barito Timur bakal melejit, ekonomi lokal hidup, UMKM dapat panggung buat jualan, dan yang paling penting, rasa bangga masyarakat terhadap daerahnya semakin kuat.
Bayangin aja, tiap bulan ada saja alasan buat merayakan sesuatu. Dunia luar bakal liat Barito Timur bukan cuma sebagai destinasi, tapi sebagai experience yang berkesan.
Tentu, buat bikin ini semua terjadi, perlu persiapan yang matang. Pertama, perlu kalender acara yang jelas dan terencana biar wisatawan bisa ngatur jadwal kunjungannya. Kedua, dukungan infrastruktur seperti akses jalan, penginapan, tempat makan dan fasilitas umum yang nyaman.
Promosi juga harus gencar, lewat media cetak, online, medsos, sampai kolaborasi dengan pihak luar. Partisipasi masyarakat juga kunci, tanpa dukungan warga, festival cuma jadi acara yang hambar. Terus, kreativitas juga harus dijaga. Setiap festival harus punya ciri khas, entah lewat pertunjukan, kuliner atau atraksi yang cuma ada di sini.
Yang nggak kalah penting, ini nggak bisa jalan kalau cuma mengandalkan pemerintah. Perlu dukungan dari berbagai pihak, masyarakat, perusahaan lewat CSR, komunitas seni, sampai anak muda seperti Karang Taruna. Karena festival pada dasarnya adalah perayaan bersama, cara kita merayakan kehidupan dengan cara kita sendiri.
Siapa tau, beberapa tahun ke depan, orang-orang bakal bilang: “Kalau mau merasakan festival sepanjang tahun, datang aja ke Barito Timur!” Mimpi? Nggak juga. Kalau kita mulai dari sekarang, mimpi itu pasti bisa kita wujudin bersama.
Catatan yang tertulis diatas tersebut adalah sebuah karya dari Agustinus Bole Malo, Ketua PWI Barito Timur. (BRP)







