Khawatir Hilang Ditelan Zaman, Gabungan Suku Dayak Minta Bangkai Kapal Onrust Diangkat

baritorayapost.com, MUARA TEWEH – Jejak sejarah Perang Barito yang hingga saat ini masih tersimpan di dasar Sungai Barito kembali menjadi perhatian. Gabungan Suku Dayak Das Barito meninjau langsung lokasi tenggelamnya Kapal Onrust, Lalutung Tour Muara Teweh untuk melihat dari dekat sisa-sisa bangkai kapal yang telah berusia lebih dari satu setengah abad tersebut. Rabu (26/08/2026).

Sekilas tentang Stoomschip Onrust) adalah kapal Belanda yang ditenggelamkan pada 26 Desember 1859 oleh laskar pejuang Tumenggung Surapati, pengikut Pangeran Antasari dalam Perang Banjar atau Perang Barito di sungai Barito, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah.

Bacaan Lainnya
Kirim Tulisan ke PerspektifSpace.com

Peristiwa Penenggelaman, Perang Barito: Kapal ini karam dalam pertempuran sengit bagian dari Perang Banjar atau Perang Barito.Pemimpin Pejuang: Penyerangan dipimpin oleh Tumenggung Surapati yang merupakan panglima kepercayaan Pangeran Antasari.Senjata Tradisional: Pejuang lokal berhasil melumpuhkan kapal perang canggih milik Belanda tersebut menggunakan senjata tradisional seperti mandau dan parang.

Rekam Jejak Sebelum Tenggelam, Ekspedisi Montrado (1854–1855): Digunakan militer Hindia Belanda dalam ekspedisi hukuman melawan pemberontak di Kalimantan Barat. Bombardir Jambi (1858): Ikut serta dalam serangan angkatan laut Belanda untuk membombardir keraton Sultan Taha di Jambi.

Kerangka kapal yang menjadi saksi bisu perlawanan rakyat terhadap kolonial ini kerap terlihat kembali di permukaan saat debit air Sungai Barito sedang surut.

Dikatakan oleh Ketua Umum Gabungan Suku Dayak Das Barito, Gusti Adiansah, mengaku bersyukur karena peninggalan bersejarah itu masih dapat ditemukan hingga sekarang, meski kondisinya hanya tersisa puing dan reruntuhan.

“Alhamdulillah, kapal yang usianya sudah lebih dari 160 tahun ini masih bisa kita lihat sampai sekarang, meskipun hanya jika musim kemarau baru bisa terlihat dan yang tersisa hanya puing-puing dan reruntuhannya saja,” ujar Gusti.

Menurutnya, keberadaan bangkai Kapal Onrust yang berjarak sekitar 2,2 km dari Ibukota Muara Teweh tidak semestinya dipandang hanya sebagai benda tua yang berada di pinggir Sungai Barito. Lebih dari itu, situs tersebut merupakan salah satu peninggalan sejarah penting yang memiliki nilai bagi masyarakat Barito Utara, khususnya generasi mendatang.

Secara historis, Kapal Onrust merupakan kapal milik pemerintah Hindia Belanda yang berlayar ke kawasan hulu Sungai Barito pada 1859 dalam rangka menghadapi pergolakan dan perlawanan masyarakat Barito.

Kapal tersebut kemudian tenggelam setelah terjadi peristiwa perlawanan yang melibatkan pasukan Tumenggung Surapati pada 26 Desember 1859.

Peristiwa tenggelamnya Onrust menjadi salah satu bagian dari sejarah panjang perlawanan masyarakat Barito terhadap kolonialisme Belanda. Karena itu, Gusti menilai keberadaan bangkai kapal tersebut memiliki nilai sejarah yang tidak boleh hilang begitu saja.

“Kalau terus dibiarkan berada di tempatnya saat ini, di pinggir Sungai Barito, nantinya peninggalan bersejarah ini akan hilang. Generasi berikutnya belum tentu bisa melihat secara langsung lagi,” tegasnya.

Selain bangkai Kapal Onrust, Gusti juga menyoroti keberadaan satu makam tua di kawasan tersebut yang menurut penuturan masyarakat telah berusia ratusan tahun, yakni makam Tuan Abdul Qadir Alhasani.

Keberadaan makam tersebut, kata Gusti, juga menjadi bagian dari kekayaan sejarah yang patut mendapat perhatian pemerintah daerah. Ia menyebut terdapat cerita turun-temurun mengenai sosok Tuan Abdul Qadir Alhasani yang dikenal memiliki postur tubuh luar biasa.

“Di lokasi ini bukan hanya ada Kapal Onrust. Ada juga makam tua, yaitu Tuan Abdul Qadir Alhasani. Menurut cerita yang berkembang, beliau adalah salah satu orang zaman dahulu yang lebar dadanya mencapai tujuh kilan,” ungkap Gusti.

Kilan dalam penyebutan masyarakat setempat merupakan ukuran bentangan tangan. Dengan perkiraan satu kilan sekitar 20 sentimeter, tujuh kilan setara kurang lebih 140 sentimeter.

Namun, Gusti menegaskan bahwa keberadaan makam tersebut bukan sekadar menyangkut cerita mengenai ukuran fisik, melainkan juga tentang bagaimana peninggalan sejarah dan budaya yang berada di kawasan tersebut dapat dijaga agar tidak hilang ditelan zaman.

“Keberadaan makam ini juga kami harapkan mendapat perhatian dari pemerintah daerah. Jangan sampai peninggalan sejarah yang ada di kawasan ini hilang begitu saja tanpa ada upaya pelestarian,” harapnya.

Gusti bahkan berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah nyata untuk menyelamatkan bangkai Kapal Onrust dan memberikan perhatian terhadap makam tua tersebut, termasuk melakukan kajian serta pendataan secara lebih serius.

“Kami sangat berharap kepada pemerintah daerah agar memperhatikan ini. Kalau memungkinkan, bangkai kapal tersebut diangkat dan dirawat dengan baik sebagai peninggalan sejarah. Begitu juga dengan makam tua yang ada di kawasan ini,” imbuhnya.

Ia menegaskan jika Pemkab Barito Utara serius untuk melakukan penyelamatan pengangkatan pihaknya siap mengajak organisasi kemasyarakatan (ormas) di Barito Utara untuk ikut berpartisipasi.

“Kalau pemerintah daerah melakukan pengangkatan, kami siap mengajak ormas-ormas yang ada di Barito Utara untuk urunan, mengumpulkan sumbangan semampunya dari seluruh anggota. Ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga tanggung jawab kita bersama,” ungkap Gusti.

Atas nama Gabungan Suku Dayak Das Barito dan masyarakat Dayak Barito Utara, Gusti mendesak pemerintah daerah agar segera merealisasikan langkah penyelamatan tersebut.

Menurutnya, jika dikelola dengan serius, kawasan tersebut tidak hanya menjadi tempat yang menyimpan cerita masa lalu, tetapi juga dapat dikembangkan sebagai kawasan sejarah dan edukasi, sehingga generasi muda dapat mengenal langsung jejak perjalanan sejarah Barito Utara.

“Jangan sampai kita baru bergerak setelah semuanya hilang. Kalau memang ini bagian dari sejarah daerah, mari kita selamatkan sekarang, kita angkat ke permukaan, kita rawat dan kita jadikan cagar budaya serta bagian dari sejarah Barito Utara,” tukasnya. (Tim Red/BRP)

jasa pembuatan website kalteng

Pos terkait