Romantisasi Kesehatan Mental di Kalangan Remaja Antara Kesadaran Diri dan Self-Diagnosis

Andini (Foto: IST)

Meski demikian, penting dipahami bahwa merasa sedih, lelah, cemas, atau kehilangan semangat tidak selalu berarti seseorang mengalami gangguan mental tertentu. Emosi tersebut dapat menjadi respons normal terhadap tekanan hidup.

Mengenal Self-Diagnosis
Self-diagnosis adalah Tindakan seseorang menyimpulkan kondisi kesehatannya sendiri berdasarkan informasi dari internet atau media sosial tanpa pemeriksaan tenaga professional. Menurut Azizah dan Nurwati (2021), fenomena self-diagnosis pada remaja meningkat karena mudahnya akses informasi kesehatan mental di media sosial.

Bacaan Lainnya
Kirim Tulisan ke PerspektifSpace.com

Banyak remaja merasa memiliki
gangguan tertentu setalah menemukan gejala yang dianggap sesuai dengan dirinya, padahal diagnosis kesehatan mental membutuhkan pemeriksaan yang lebih mendalam oleh tenaga
profesional.

Konten singkat di Tiktok atau Instagram sering membuat seseorang “relate” dengan gejala tertentu. Jika tidak dipahami dengan bijak, self-diagnosis dapat menimbulkan kecemasan yang berlebihan, salah memahami kondisi emosional, hingga menunda mencari bantuan profesional.

Remaja dan Tantangan Kehidupan Modern

Kesehatan mental remaja dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain :

  • Tekanan akademik,
  • bullying atau perundungan,
  • hubungan keluarga yang kurang suportif,
  • penggunaan media sosial berlebihan,
  • kurang tidur,
  • serta minimnya dukungan emosional.

Di era digital, remaja juga menghadapi tekanan untuk selalu terlihat bahagia dan sempurna di media sosial. Perbandingan sosial yang terus-menerus dapat mempengaruhi rasa percaya diri
dan membuat seseorang merasa tidak cukup baik.

jasa pembuatan website kalteng

Pos terkait