Oleh : Andini (2473201110009) Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Banjarmasin
baritorayapost.com, PULANG PISAU – “Aku kayaknya ADHD…” Kalimat yang sering terdengar di kalangan remaja saat ini. Dimana, media sosial (Medsos) kini dipenuhi berbagai konten tentang kesehatan mental. Dalam hitungan detik, seseorang dapat menemukan video mengenai “tanda-tanda anxiety”, “gejala ADHD”, atau ” Ciri-ciri depresi”.
Satu sisi, kondisi ini membantu anak muda lebih sadar akan pentingnya menjaga kesehatan mental. Namun di sisi lain, muncul fenomena baru yang semakin marak, yaitu self-diagnosis atau mendiagnosis diri sendiri tanpa pemeriksaan professional.
Fenomena ini banyak terjadi pada remaja yang sedang berada dalam fase pencarian jati diri atau self identity. Menurut teori perkembangan psikososial Erik Erikson, masa remaja merupakan tahap identity vs role confusion, yaitu fase ketika seseorang sedang berusaha memahami dirinya sendiri, mencari identitas, dan ingin diterima lingkungan sosialnya. Pada fase ini, remaja cenderung mudah terpengaruh oleh lingkungan, termasuk informasi dari media sosial.
Menurut World Health Organization (WHO), satu dari tujuh remaja usia 10-19 tahun mengalami masalah kesehatan mental. Di Indonesia, hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 juga menunjukkan bahwa masalah kesehatan mental pada remaja semakin meningkat, terutama berkaitan dengan stress emosional, kecemasan, dan tekanan sosial di lingkungan nyata maupun media digital.










