Baritorayapost.com, JAKARTA – Lautan jamaah larut dalam lantunan shalawat dan dzikir pada Maulid Akbar bertajuk “Reviving Hearts, Uniting Souls” yang digelar Naqshybandiyya Haqqani Indonesia di Masjid Raya Pondok Indah, Jakarta Selatan, Selasa malam (15/9/2026).
Majelis tersebut menghadirkan Syaikh Gibril Fouad Haddad dan Syaikh Nour Kabbani, serta diikuti jamaah dari berbagai perwakilan zawiyah Naqshybandiyya Haqqani di Indonesia. Jamaah dari Brunei, Amerika Serikat, Singapura, Malaysia, Australia hingga Kanada turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Suasana semakin khidmat ketika Syaikh Nour Kabbani menyampaikan tausiyah tentang kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, doa, syafaat, dan pentingnya mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat.
Salah satu pesan yang disampaikan Syaikh Nour mengajak jamaah merenungkan kembali apa yang sebenarnya akan menemani manusia ketika kehidupan dunia berakhir.
Ia menggambarkan tiga hal yang kerap dianggap paling dekat dengan manusia, yakni harta, keluarga, dan amal.
Harta tidak akan ikut masuk ke dalam kubur. Keluarga akan mengantar hingga pemakaman, tetapi kemudian kembali meninggalkan orang yang telah meninggal.
“Yang pertama sebetulnya adalah uang, harta. Tidak akan pergi, dia tidak mau pergi ke kuburan,” ujar Syaikh Nour dalam tausiyahnya.
Menurutnya, mobil mewah, kekayaan, maupun berbagai benda yang dikumpulkan selama hidup tidak akan menjadi bagian dari perjalanan manusia di alam barzakh.
Begitu pula keluarga. Suami atau istri, anak, cucu, dan orang-orang tercinta dapat mengantarkan hingga pemakaman, namun setelah prosesi selesai mereka akan kembali menjalani kehidupan.
Karena itu, Syaikh Nour mengingatkan jamaah agar tidak menjadikan kehidupan dunia sebagai satu-satunya tujuan.
Ia mengajak jamaah memperbanyak amal, doa, dzikir, serta kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai bagian dari persiapan menuju kehidupan akhirat.
Seruan Menjaga Napas dan Menghidupkan Hati
Dalam tausiyahnya, Syaikh Nour juga mengajak jamaah untuk menyadari setiap tarikan napas sebagai kesempatan untuk mengingat Allah SWT.
“Jagalah nafas kita. Sadarilah nafas kita,” pesannya.
Ia menekankan bahwa tidak ada waktu yang benar-benar sia-sia apabila digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Syaikh Nour juga mengajak jamaah untuk terus optimistis, istiqamah, memperbanyak doa, serta mencintai Rasulullah SAW.
“Oleh karena itu kita harus terus optimis, harus selalu maju terus, istiqamah, berdoa kepada Allah, mencintai Rasulullah SAW,” katanya.
Mengingat Kemuliaan Nabi Muhammad SAW

Dalam kesempatan tersebut, Syaikh Nour juga menyampaikan tentang salah satu nama Nabi Muhammad SAW, yakni Taha, serta mengaitkannya dengan doa dan kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Ia menjelaskan pentingnya memohon kepada Allah SWT dengan penuh penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Dalam tausiyahnya, ia juga menyampaikan keyakinan tentang kemuliaan Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi alam semesta dan harapan umat untuk memperoleh syafaat.
Menurut Syaikh Nour, kecintaan kepada Rasulullah SAW harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui doa, dzikir, istiqamah, dan upaya memperbaiki diri.
Maulid Akbar “Reviving Hearts, Uniting Souls” akhirnya tidak hanya menjadi pertemuan spiritual bagi jamaah dari berbagai daerah dan negara, tetapi juga menjadi momentum untuk kembali mengingat tujuan kehidupan.
Di tengah gemerlap kehidupan dunia, jamaah diajak untuk tidak melupakan satu hal, apa yang akan dibawa ketika semua yang dimiliki di dunia telah ditinggalkan.
Maulid Akbar tersebut ditutup dalam suasana penuh kekhusyukan. Shalawat dan dzikir yang menggema menjadi pengingat bahwa kehidupan dunia pada akhirnya akan berakhir, sementara setiap manusia akan kembali menghadap Allah SWT dengan membawa amalnya masing-masing.
Pesan Syaikh Nour Kabbani menjadi renungan bagi jamaah untuk tidak terlena oleh harta, jabatan, maupun kenikmatan dunia. Sebab ketika perjalanan menuju alam akhirat dimulai, yang tersisa bukan lagi apa yang dimiliki, melainkan amal, doa, dzikir, serta kecintaan kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Melalui tema “Reviving Hearts, Uniting Souls”, majelis ini diharapkan menjadi momentum untuk terus menghidupkan hati, memperkuat persaudaraan, memperbanyak shalawat dan dzikir, serta menjaga kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari.
Sebab, pada akhirnya, yang kita bawa bukanlah apa yang kita kumpulkan, melainkan apa yang kita tanam selama hidup.Kalimat terakhir itu bisa menjadi “punchline” penutup yang cukup kuat untuk berita. Saya juga bisa buatkan versi penutup yang lebih islami, menyentuh, dan puitis kalau ingin nuansanya lebih dalam.
Rangkaian Maulid Akbar tersebut pun menjadi pengingat bagi jamaah bahwa kehidupan dunia hanyalah bagian dari perjalanan panjang manusia. Harta, jabatan, dan berbagai kemewahan pada akhirnya akan ditinggalkan, sementara amal, doa, dzikir, dan kecintaan kepada Allah SWT serta Rasulullah SAW menjadi bagian penting yang terus dibawa dalam perjalanan menuju akhirat.
Melalui tema “Reviving Hearts, Uniting Souls”, majelis ini diharapkan tidak berhenti sebagai pertemuan dalam satu malam, tetapi menjadi momentum untuk menghidupkan hati, mempererat persaudaraan, dan mendorong setiap jamaah untuk membawa nilai-nilai kecintaan kepada Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari. (BRP)









