Lebih lanjut dikatakan Alfirdaus, tugas kami di sini adalah bagaimana mengobservasi dulu, kita pastikan dulu benda-bendanya dan ternyata menarik temuannya. Ada beberapa hal yang memang memenuhi kriteria bahwa ini adalah benda bersejarah.
“Lokasi aku Paku Beto Ini sebenarnya sudah kita masukkan dalam list situs cagar budaya, begitu ada temuan ini malahan sudah berkembang ke wilayah cagar budaya dan cakupannya lebih besar karena terdiri dari beberapa situs yang ada,” ungkap Alfirdaus.
Selain temuan benda bersejarah, tim juga menelusuri yang ternyata menemukan situs berupa pondasi, kemudian jalan pondasi ada dua yang perlu di observasi lagi mengetahui dan kebetulan juga jejak referensinya serta catatan-catatan sejarahnya.
“Kita bersyukur itu ada dan ternyata untuk bangunan gerejanya, interiornya, fotonya itu ada. Jadi itu sebenarnya bisa kita kembangkan lagi nanti, hanya memang kita perlu tenaga-tenaga ahli dari balai pelestarian budaya, hari ini kita bisa hadirkan karena memang secara teknisnya kita terbatas, kami juga berkoordinasi dengan mereka dan syukur mereka hari ini bisa hadir”, tuturnya.
Dirinya juga menyebutkan bahwa akan menindaklanjuti perkembangannya ke depan karena diyakini juga kemungkinan di dalam tanah tersebut masih banyak benda-benda yang lain yang mungkin perlu dijaga.
“Pada prinsipnya kita mendukung kegiatan ini, walaupun nanti pada akhirnya kemudian pun dibangun sebuah museum, itu ada langkah yang baik untuk bagaimana kita menjaga peninggalan-peninggalan sejarah ini, karena cerita itu bisa dikonfirmasi kebenarannya pada saat ada benda-benda yang kemudian memperkuat, misalnya adalah peninggalan sejarah. Mudah-mudahan hal yang seperti ini bisa menjadi edukasi siapa tahu nanti di wilayah-wilayah yang yang lain itu terdapat hal yang serupa,” harap Alfirdaus.










