Kita terima Rp. 60.000 perbulan, lanjut Tamiati menjelaskan. Kalau sebulan Rp. 60.000 berarti setahun tidak sampai sejuta, tapi didaftar kerjasama anggaran mencapai tiga juta lebih.
“Yang lain ada mencapai 36 juta dan 25 juta setahun hebat sekali, padahal mereka yang selalu buat gaduh. Tapi maaf bukan iri, tapi cara tidak adil buat teman-teman yang lain,” ungkap Tamiati
Sementara Ahmad Fahrizali yang juga wartawan aktif di kabupaten Barito Timur ini sangat menyayangkan langganan yang pilih kasih. Menurutnya beberapa kali menawarkan langganan namun dijawab pihak RSUD Tamiang Layang tidak ada anggarannya.
Awalnya kita maklum, mungkin anggaran nya memang kecil, sehingga saya dan kawan lainnya tidak lagi mengajukan penawaran, namun setelah mendengar kabar ada rapat di Rumah sakit kemarin ternyata anggarannya lumayan besar dan hanya di monopoli oleh beberapa media.
“Patut diduga ada permainan dalam anggaran media di RSUD Tamiang Layang”, tutup Ahmad. (BRP)










